Kesan Pertama Berkunjung Ke Museum Tsunami

Kadang-kadang dalam hidup ini kita punya satu maksud, namun tak tercapai sebagaimana mestinya harap itu ada. Namun dari situ pula tercipta hal-hal yang menyenangkan yang tak pernah kita duga.

Seperti juga halnya Sabtu pagi itu, saat aku bersama sepedaku–kadang aku memanggilnya Rambo sesuai nama merek sepeda BMX-ku itu–hendak melalui rute menuju pelabuhan Ulee Lheue. Namun angin seperti menuntunku ke tempat ini. Tempat yang seolah didirikan untuk mengenang masa lalu yang kelam–begitulah pendapatku sebelum hari itu. Tapi entah angin apa yang membawaku, rasa penasaran yang menyelinap membawaku ke dalam. Continue reading
Advertisements

Mengintip Aceh Tempo Doeloe via Konten Digital

Salah satu dampak positif dari era digital yang semakin berkembang adalah kemudahan kita dalam mengakses suatu informasi. Bukan hanya informasi yang paling terkini, data-data dan dokumentasi masa lampau yang telah melalui proses digitalisasi membuka ruang kepada dimensi kini untuk mengintip bahkan meneliti tentang suatu peristiwa dimasa lalu. Walaupun teknologi masa lalu tidak secanggih sekarang, tetapi ada beberapa peristiwa yang masih mampu diabadikan pada saat itu. Teknologi digitalisasi sekarang sangat memungkinkan kita untuk melihat dokumentasi-dokumentasi masa lampau hanya dengan koneksi internet. Continue reading

VISIT BANDA ACEH YEAR 2011 FLASHBACK: ACEH INTERNATIONAL FOLKLORE FESTIVAL

Minggu, 24 Juli 2011

Alunan musik riang mengiringi delapan pasang pemuda pemudi asal negeri spageti menari dengan lincah. Sesekali seruan kompak dan teriakan melengking dari penari wanita terdengar. Para penari wanita itu membawa keranjang yang berisi bunga yang disangkutkan di lengan dekat siku. Sajian tarian dengan gerakan kaki cepat mirip tap dance mereka peragakan. Senyum merekah menghiasi wajah mereka sepanjang tarian. Keintiman dan chemistry yang kuat terlihat saat penari wanita bergandengan tangan dengan penari pria sembari membuat gerakan berputar di panggung.  Gerakan itu bertransformasi menjadi mengular seperti rangkaian rantai. Sambil melambaikan saputangan, mereka mengakhiri pertunjukan sore itu. Penonton pun bersorak gembira melihat atraksi tarian rakyat dari Italia itu. Tak terkecuali saya.

Beruntung saya berada di barisan depan penonton yang berada di Taman Putroe Phang, Banda Aceh. Sore itu adalah hari kedua event Aceh International Folklore Festival 2011 (AIFF) yang dilaksanakan dalam rangka Visit Banda Aceh Year 2011. Karena saya tidak sempat mengikuti acara pembukaan di hari pertama, maka sore itu saya sempatkan datang lebih awal ke Taman Putroe Phang khusus untuk melihat penampilan para penari folklore dari beberapa negara peserta. Continue reading

Kuburan Massal di Rumah Sakit

Entah sejak peringatan ke berapa, setiap tanggal 26 Desember aku sempatkan berkeliling kota. Merasakan bagaimana air merambat ke daratan, dan kota hancur selepas itu. Sekedar mengenang agar tak abai.

Dulu-dulu kegiatan ini kerap kujalani sendiri atau bersama kakak tertuaku. Ulee Lheue adalah tujuan utama. Sebab daerah pesisir ini paling parah terkena tsunami 26 desember 2004 silam.

Dan tahun ini kegiatan itu kulakukan ulang tepat diperingatan sembilan tahun. Beberapa teman ikut serta. Libur panjang membuat mereka ingin melepaskan penat.

Kisaran pukul 09:00 WIB aku bersama Aslan, Adit, Junaida, dan Isni berkumpul di pusat perbelanjaan Pante Pirak. Pagi tadi suasana kota sedikit syahdu. Ada hawa beda yang kurasakan. Hal sama diiyakan Adit.
“Hari ini kayak lebaran bang!” Continue reading

Kapal di Atas Rumah, Objek Tsunami di Gampong Sadar Wisata

Kapal di Atas Rumah, Lampulo. Sumber foto di sini

Objek tsunami, selain berfungsi sebagai tempat tujuan wisata juga menjadi tempat untuk merenung akan kebesaran Illahi. Salah satu tempat yang memenuhi dua kriteria di atas adalah objek wisata Kapal di atas Rumah di gampong Lampulo, kecamatan Kuta Alam Banda Aceh.

Matahari masih tinggi ketika saya sampai di sini, panasnya terasa menyengat kulit dan saya terpaksa memicingkan mata. Namun, saat melihat kapal besar yang bertengger di atas rumah saya pun takjub. Continue reading
Es Campur Pasar Aceh, Jajanan Pasar Favorit Kami

Es Campur Pasar Aceh, Jajanan Pasar Favorit Kami

Siang hari yang panas pasti enaknya minum yang segar-segar, yang bisa melepaskan dahaga dan terasa dingin hingga ke tenggorokan. Apalagi kalau setelah beraktivitas yang melelahkan. Menyeruput minuman yang segar pasti mampu menghilangkan lelah dan dapat menambah stamina.

“Gimana kalau kita minum es campur di Pasar Aceh,” ajak suamiku saat itu.

Es campur Pasar Aceh memang memiliki kenangan tersendiri bagi kami. Dulu waktu kecil, setiap datang ke Banda Aceh, Pasar Aceh adalah tempat yang tidak pernah absen saya datangi. Mamak selalu mengajak saya ke pusat perbelanjaan masyarakat Aceh yang letaknya di pusat kota ini. Beragam kebutuhan sandang diperjualbelikan di sana dengan harga yang bisa kita tawar. Posisinya juga berdekatan dengan Mesjid Raya Baiturrahman. Jadi, setelah selesai berbelanja baju baru, kami sering singgah ke Mesjid Raya untuk shalat atau hanya beristirahat. Belum sah ke Banda kalau belum ke mesjid kebanggaan rakyat Aceh ini.

Tapi sebelum ke mesjid, kami singgah dulu ke gerobak penjual es campur. Menyeruput segelas es campur setelah lelah berbelanja memang nikmat tiada tara. Perpaduan es serut, santan, susu, gula jawa, kacang hijau, cincau, biji delima, tape, dan cendol mampu melepaskan dahaga dan dapat mengganjal perut untuk sementara. Slurpppp…. Segar… dinginnya sampai ke hati.

Continue reading

Menapak Jejak Kelahiran Banda Aceh

Menapak Jejak Kelahiran Banda Aceh

 

Rasanya tidak afdhal kalau kita tinggal di suatu daerah, tetapi tidak tahu asal-usul daerah tersebut. Bagaimana rasa sayang akan tumbuh jika kita hanya mengenal tempat itu dari yang tampak di mata?

Maka, siang itu, saya dan teman-teman memutuskan untuk mencari tahu tempat lahirnya Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh. Matahari yang kian terik tidak menjadi halangan bagi saya untuk tetap melangkah. Kampung Pande, sebuah wilayah yang terletak di Kecamatan Kuta Raja adalah tujuan saya. Konon, di sanalah Banda Aceh lahir dan besar seperti sekarang ini. Karena tak ada angkutan umum ke sana, kami pun menyewa minibus.

Kampung Pande berjarak kurang lebih 5 kilometer dari pusat kota Banda Aceh. Di ujung perjalanan, ketika bus berhenti tepat di bibir pantai Selat Malaka, saya melihat sebuah tugu berbentuk persegi panjang. Itulah Tugu Titik Nol, titik pertama Banda Aceh terbentuk 808 silam.
Continue reading